Catatan: Artikel ini pertama kali terbit di Bisnis Indonesia Weekend edisi Minggu, 22 November 2015

Penulis: Wike D. Herlinda & Ipak Ayu H. Nurcaya

HARUS diakui, numismatik atau koleksi uang kuno merupakan salah satu hobi yang tidak lekang digerus zaman. Seiring dengan semakin berkembangnya era modern, para numismatis (kolektor uang kuno) justru semakin menjamur di berbagai belahan dunia.

Di Indonesia sendiri, hobi ini terus menjangkau pelosok daerah, linier dengan pesatnya perkembangan komunitas kolektor uang kuno. Ahli uang kuno Eko Nurhuda--yang juga owner UangLama.com--menjelaskan tambah semaraknya numismatis (kolektor) karena uang tidak dapat dilepaskan dari sejarah bangsa.

"Semua ada kaitannya dengan sejarah bangsa. Jadi, setiap uang memiliki cerita," tuturnya.

Contohnya uang yang dicetak pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno. Uang yang dicetak pada masa Orde Lama dikenal memiliki variasi kode rahasia yang tidak sembarangan dirancang. Demikian pula uang yang dicetak berdasarkan seri. Uang yang dicetak pada 1957 adalah seri hewan yang ditandatangai oleh (saat itu) Gubernur Bank Indonesia Sjafruddin Prawiranegara, yang kemudian terlibat dalam pemberontakan PRRI Permesta di Sumatra.

"Nah, ketika uang itu sudah ditandatangani dan baru dirilis, ternyata ketahuan tersangkut kasus pemberontakan di Sumatra. Akhirnya, uang tersebut belum sampai beredar luas, terpaksa harus ditarik kembali," jelasnya.

Cerita sejarah yang mengiringi uang seri hewan ini yang akhirnya membuat para kolektor uang berlomba-lomba mendapatkannya. Ternyata uang yang memiliki makna tertentu pada gambar, tanggal rilis, kode, dan tandatangan tokoh di kedua sisinya ini mampu menjadi pemikat para kolektor.

Eko menjelaskan numismatis di Indonesia ternyata menjadi besar karena komunitas. "Secara kasat mata, perkembangannya bagus. Semakin banyak penjual, dan pengoleksi. Dulu paling hanya orang-orang tertentu saja. Sekarang sudah bermunculan banyak nama," ujarnya.

Persebaran basis kolektor juga bertambah tidak hanya di Surabaya, Bandung, dan Jakarta saja, tetapi meluas hingga Yogyakarta, Surakarta, Klaten Tegal, Pekalongan, Slawi, dan kota lainnya. Dari komunitas tersebut, maka para kolektor dapat berbagi informasi mengenai uang kuno yang bagus, sedang booming, dan seputar perkembangan harga uang kuno.

"Komunitas ini juga menambah koleksinya melalui satu-satunya situs lelang numismatik, kintamoney.com, yang saat ini menjadi rujukan para kolektor sebelum berburu uang," katanya.

Menurutnya, uang dalam kondisi misprint atau miscut tidak jarang terjual dengan harga mahal. Dia mengatakan pecahan uang Rp50.000 yang salah cetak dapat dijual dengan nominal empat kali lipat lebih tinggi dibanding nilai yang tertera di lembarannya.

"Harganya malah lebih tinggi. Karena uniknya itu. Dan mungkin juga karena termasuk langka, karena tidak banyak uang yang salah potong, salah cetak, salah warna, atau tintanya tidak rata," ujarnya.

Pesona mengumpulkan uang kuno ternyata menarik hati Rudi Lukito untuk menjadi kolektor. Hobi yang ditekuninya sejak 1980-an ini membuatnya memiliki ribuan jenis uang kuno.

"Koleksi uang kuno sebagai hobi itu keuntungannya selain kepuasan batin, menambah jejaring pertemanan, juga sebagai investasi," katanya.

Investasi Menguntungkan

Dia mengungkapkan dengan jual beli uang kuno, membuatnya mendapatkan tambahan penghasilan yang jumlahnya jauh lebih tinggi dibandingkan gajinya sebagai programmer. Pendapatan tambahan yang cukup fantastis ini membuatnya semakin giat untuk mengumpulkan beberapa seri uang yang terbilang langka.

"Uang kuno itu harganya sangat beragam. Mulai dari Rp7.000 hingga puluhan juta. Uang kuno yang mahal pastinya yang jarang ditemukan. Misalnya uang kuno tahun 1970-an, yang diproduksi dalam jumlah terbatas oleh Bank Indonesia," katanya.

Kolektor Arifin Martoyo--yang kesehariannya berprofesi sebagai dokter--tercatat sebagai kolektor senior. Dia mengungkapkan pernah membeli selembar uang kuno dengan harga Rp260 juta. Selain itu, dia tidak merasa rugi untuk membeli beragam jenis uang dengan seri yang beragam seharga Rp1,5 miliar.

"Koleksi uang kuno itu banyak manfaatnya. Salah satunya adalah menambah penghasilan atau sarana investasi, karena uang kuno ternyata banyak peminat dan harganya selalu naik terus. Masalah utamanya bukan menjual tetapi cara mendapatkannya lagi," tuturnya.

Namun, Arifin menyarankan jika menginginkan koleksi uang kunonya menjadi instrumen investasi, maka harus memiliki pengetahuan mendalam. Informasi tentang uang kuno, dana yang cukup, dan jejaring pertemanan yang luas, adalah faktor utama. Dengan demikian dapat dengan mudah membeli dan menjual barang.

"Selain itu, jika ingin berinvestasi pada uang kuno, saya anjurkan untuk berburu sendiri, dan tidak melalui lelang. Dengan mendapatkan barang langsung dari pemilik maka harga bisa bagus dan masih menguntungkan jika ingin dijual," katanya.

Senada, pendiri Club Oeang Revolusi (CORE) Uno menuturkan koleksi uang kuno dapat dijadikan investasi.

"Memang tidak melejit seperti tren batu akik, yang sangat melejit, kemudian meredup. Jika bermain di uang kuno, trennya sangat landai. Tidak terjadi fluktuasi seperti itu [batu akik]. Keuntungannya adalah selalu muncul pembeli atau kolektor baru," katanya.

Pendiri Numismatik Yogyakarta Wisnu Murti (tampak di foto atas) menuturkan tren jual beli uang kuno akan terus terjadi karena semua item akan menjadi barang buruan.

"Semuanya pasti dicari, karena ada item tertentu yang dicetak sangat terbatas atau beredarnya hanya sedikit. Uang-uang kuno yang salah cetak atau salah potong itu juga banyak dicari. Harganya jauh lebih mahal ketimbang uang dalam kondisi baik," katanya.

Padahal, tambahnya, berdasarkan aturan Bank Indonesia, uang yang salah cetak atau salah potong harus dikembalikan ke Bank Sentral dan tidak boleh beredar atau ditransaksikan.

"Sebetulnya itu menyalahi aturan BI sih. Tetapi justru karena itulah kolektor malah menyukainya," ujarnya.