Langsung ke konten utama

Koleksi Antik Investasi Numismatik - Harian Analisa


UANG koin pecahan kecil, misalnya Rp500 dan Rp200, bahkan yang terkecil saat ini Rp100, sering kita anggap tidak bernilai. Kembalian dari belanja, ketiga pecahan keci itu pun berserak di dalam laci, di atas meja rias, atau malah tersapu sebagai sampah. Padahal, sesuatu yang kita anggap tidak berharga, pada saatnya bisa saja menjadi tiada tara nilainya. Pernahkan terpikir oleh kita untuk mengumpulkannya pada satu tempat, lalu disimpan tak ubahnya menyimpan perhiasan?

Kita memang sering mengabaikan hal-hal kecil tersebut, namun tidak pada koin mata uang negara jiran. Pecahan sekecil apapun dari mata uang asing, lebih kita hargai dan disimpan meskipun hanya sekadar untuk benda suvenir. Perbedaan perlakuan ini sah-sah saja.

Koin rupiah maupun koin asing sesungguhnya punya nilai yang sama di mata kolektor. Yang membedakan nilainya, hanya pada tahun pembuatan, kelangkaan (limited edition), kondisi benda, dan bahan bakunya. Bagi kolektor, uang kertas maupun berbentuk koin yang diterbitkan tahun tertentu bisa bernilai jual ‘wah’ dan sangat menggiurkan. Apalagi yang sudah langka dan berbahan logam mulia.

“Bisa tinggi nilainya. Untuk jenis koin tertentu maupun uang kertas yang bernomor seri berurut. Tapi hobi numismatik kadang tidak berpatokan pada nilai jual, sebab sebuah hobi tentu nilai kebahagiaannya relatif tergantung pada orangnya,” ungkap Ketua Perhimpunan Filateli Indonesia (PFI) Sumatera Utara, Lukman Yanis, kepada Analisa saat menggelar pameran di Kantor Pos Medan pertengahan November lalu.

Sekarang, imbuh Yanis, tidak hanya benda koleksi numismatiknya saja yang langka. Para kolektornya juga semakin sedikit. Kalaupun masih tersebar di Sumut, kebanyakan mereka lebih memilih untuk tidak berhimpun pada sebuah perkumpulan/organisasi layaknya di PFI.

Motivasi Iseng
Banyak orang menjadi numismatis bukan karena termotivasi pada awalnya. Ia hanya tidak sengaja memiliki beberapa lembar mata uang atau pun koin lama. Ada pula kalangan filatelis yang tidak kalah iseng untuk mengumpulkan benda-benda numismatik – berasal dari bahasa Latin, numisma yang artinya uang logam. Kini, papar Yasin, numismatis tidak terpaku pada koin semata, uang kertas juga dijadikan koleksinya.

Sama halnya, karena berprofesi sebagai karyawan bank atau profesional lain yang posisinya selalu berkutat dengan uang (kasir atau bendahara), akhirnya tertarik mengoleksi berbagai jenis mata uang. Tidak jarang, papar Yasin, karena keseringan ke luar negeri dan tertarik melihat mata uang asing, kemudian mengumpulkannya sebagai koleksi. Karena motivasi iseng inilah, yang mendasari seseorang akhirnya menjadi numismatis.

Karena iseng pula, kolega saya yang tidak sengaja mendapatkan beberapa butir logam koin yasin – saat mencangkul di halaman rumahnya di Tanjung Morawa, kini semakin tertarik untuk menambah koleksinya.

“Tidak untuk dijual. Saya sangat tertarik dengan warna dan gambarnya,” jelasnya.

Ia pun menunjukkan koin yasin itu yang salah satu sisinya bertuliskan yasin dengan huruf Arab gundul dengan susunan tulisan sejajar ke bawah. Pada sisi lain koin tersebut bergambar seseorang (seperti pria berjenggot panjang) diembos, memegang tongkat dengan tangan kiri dan di tangan kanannya menjinjing sebuah benda mirip tempat bekal makanan. Sedangkan di bagian atas kanan dekat kepala, bergambar bulan sabit-bintang dan tulisan yasin serta sederet tulisan lainnya.

Penasaran dengan koin unik dan langka itu, saya pun mencoba berselancar di dunia maya, pada salah satu situs pelelangan koin kuno, ternyata koin yasin itu bernilai sangat fantastis. Tapi tegas pemilik koin itu, untuk tidak menjualnya dan hanya akan dijadikan koleksi.

Sejatinya, motivasi dasar sebagai alasan seseorang menggeluti sebuah hobi itu sangat penting. Dengan adanya motivasi, ketekunan dan keseriusan akan menyertai. Begitu halnya, motivasi sangat diperlukan bagi seorang numismatis. Karena dari motivasi itulah akan lahir tujuan yang kelak ingin dicapai seorang numismatis.

Nilai Sejarah
Benda-benda numismatik yang unik kerap memiliki nilai sejarah sesuai tahun terbitnya. Nilai sejarah inilah yang menjadi pemicu dasar tinggi-rendahnya benda numismatik. Sama kita ketahui, sebelum kemerdekaan RI, uang sebagai alat tukar dalam perdagangan sudah dikenal meluas di nusantara.

Perdagangan internasional pada masa lampau, menyuburkan peredaran mata uang asing di negara kepulauan ini. Misalnya mata uang dari zaman Kerajaan Hindu Buddha (850-1300 Masehi), zaman kerajaan-kerajaan Islam, masa pemerintahan kolonial Belanda, kedatangan pedagang Perancis dan Inggris, hingga era pendudukan Jepang.

Pada sebuah literatur, saat Ratu Buton II (Kerajaan Buton di Sulawesi Tenggara) masih berjaya sekira abad ke-14, pernah dibuat uang berbahan dasar kain tenun dengan sebutan Kampua. Seiring maraknya imperialisme di Indonesia, mata uang koin pun mulai diperkenalkan. Masih ingatkah kita, beberapa tahun lalu warga Ngawi pernah menemukan uang kuno dari zaman Dinasti Ching, bahkan warga Malang juga menemukan sekarung uang yang sama? Zaman bergulir, uang kertas pun mulai diproduksi.

Menjadi numismatis memang perlu modal wawasan. Jika bersungguh-sungguh, tentu wawasan ini bisa didapatkan dari berbagai cara. Misalnya melebur pada sebuah perkumpulan numismatik, mempelajari referensinya dari buku, majalah, bahkan dunia maya. Kini bahkan tersedia katalog uang kertas Indonesia (KUKI) dan katalog uang logam Indonesia.

Dengan wawasan yang memadai, kita bisa membedakan jenis dan seri uang tertentu. Ini akan memudahkan menyiasati uang mana yang akan dikoleksi. Terpenting, memahami harga uang kuno dipasaran saat sekarang. Katagol Uang Kertas Indonesia (KUKI) dan katalog sejenis bisa membantu kita untuk mengambil keputusan.

Kita bisa berdecak kagum, melihat harga selembar uang kertas yang melambung 1.500% dari nominal aslinya bahkan lebih. Tapi ada juga yang kenaikan nilainya biasa-biasa saja, artinya jika jenis uang tersebut dalam jumlah banyak dikonversikan dengan bunga bank dan ditabungkan dalam jangka waktu tertentu, sekarang nilainya tetap sama.

Layaknya mengoleksi barang-barang lainnya, mengoleksi numismatik juga mendatangkan keuntungan secara finansial. Tidak harus uang kuno, uang yang kita pakai sekarang juga harganya bisa melebihi nominal yang ada. Apa alasannya?

Tidak jauh beda dengan nomor perdana kartu sim ponsel, nomor yang berurut atau yang kembar – triple, kwarted, dll – nilai jualnya bisa selangit. Begitu juga dengan uang kertas yang memiliki seri ‘nomor cantik’. Misalnya pecahan uang kerta yang ada saat sekarang, niminal Rp.1.000, pecahan Rp2.000, pecahan Rp10.000, atau pecahan Rp50.000.

Yah, mengoleksi numismatik baik dari jenis uang antik hingga uang bernomor cantik bisa menjadi investasi masa depan. Kecuali akan melunaskan kebahagian karena hobi, investasi numismatik juga bisa mendatangkan hoki. Tertarikkah Anda? (Rhinto Sustono/Analisa)

Sumber: http://harian.analisadaily.com/news?r=85957

Komentar

Pos populer dari blog ini

Misteri Rp100 Perahu Layar

Daftar Lengkap Uang Kertas Rp100 (1945-1992)

Rp100 Tahun 1982 Gambar Badak

Rp500 Tahun 1992, Uang Orangutan