Cara Order | Ongkir | Kontak | About | Privacy Policy


Paket 16 Rupiah

Paket 16 Rupiah A

Paket 16 Rupiah A

Rp55.000,-

per paket

H A B I S


Paket 16 Rupiah D

Paket 16 Rupiah D

Rp65.000,-

per paket

Ready Stock


Paket 16 Rupiah B

Paket 16 Rupiah B

Rp65.000,-

per paket

Ready Stock


Paket 16 Rupiah E

Paket 16 Rupiah E

Rp75.000,-

per paket

Ready Stock


Paket 16 Rupiah C

Paket 16 Rupiah C

Rp45.000,-

per paket

Ready Stock


Paket 16 Rupiah F

Paket 16 Rupiah F

Rp90.000,-

per paket

Ready Stock

Uang Lama Pelengkap Mahar
Rp100 tahun 1992

Rp100 tahun 1992

Rp5.000,-

per lembar

stok: ready stock

Rp500 tahun 1992

Rp500 tahun 1992

Rp7.000,-

per lembar

stok: ready stock

Rp1.000 tahun 1992

Rp1.000 tahun 1992

Rp10.000,-

per lembar

stok: ready stock


18 Maret 2016

Koleksi Antik Investasi Numismatik - Harian Analisa



UANG koin pecahan kecil, misalnya Rp500 dan Rp200, bahkan yang terkecil saat ini Rp100, sering kita anggap tidak bernilai. Kembalian dari belanja, ketiga pecahan keci itu pun berserak di dalam laci, di atas meja rias, atau malah tersapu sebagai sampah. Padahal, sesuatu yang kita anggap tidak berharga, pada saatnya bisa saja menjadi tiada tara nilainya. Pernahkan terpikir oleh kita untuk mengumpulkannya pada satu tempat, lalu disimpan tak ubahnya menyimpan perhiasan?

Kita memang sering mengabaikan hal-hal kecil tersebut, namun tidak pada koin mata uang negara jiran. Pecahan sekecil apapun dari mata uang asing, lebih kita hargai dan disimpan meskipun hanya sekadar untuk benda suvenir. Perbedaan perlakuan ini sah-sah saja.

Koin rupiah maupun koin asing sesungguhnya punya nilai yang sama di mata kolektor. Yang membedakan nilainya, hanya pada tahun pembuatan, kelangkaan (limited edition), kondisi benda, dan bahan bakunya. Bagi kolektor, uang kertas maupun berbentuk koin yang diterbitkan tahun tertentu bisa bernilai jual ‘wah’ dan sangat menggiurkan. Apalagi yang sudah langka dan berbahan logam mulia.

“Bisa tinggi nilainya. Untuk jenis koin tertentu maupun uang kertas yang bernomor seri berurut. Tapi hobi numismatik kadang tidak berpatokan pada nilai jual, sebab sebuah hobi tentu nilai kebahagiaannya relatif tergantung pada orangnya,” ungkap Ketua Perhimpunan Filateli Indonesia (PFI) Sumatera Utara, Lukman Yanis, kepada Analisa saat menggelar pameran di Kantor Pos Medan pertengahan November lalu.

Sekarang, imbuh Yanis, tidak hanya benda koleksi numismatiknya saja yang langka. Para kolektornya juga semakin sedikit. Kalaupun masih tersebar di Sumut, kebanyakan mereka lebih memilih untuk tidak berhimpun pada sebuah perkumpulan/organisasi layaknya di PFI.

Motivasi Iseng
Banyak orang menjadi numismatis bukan karena termotivasi pada awalnya. Ia hanya tidak sengaja memiliki beberapa lembar mata uang atau pun koin lama. Ada pula kalangan filatelis yang tidak kalah iseng untuk mengumpulkan benda-benda numismatik – berasal dari bahasa Latin, numisma yang artinya uang logam. Kini, papar Yasin, numismatis tidak terpaku pada koin semata, uang kertas juga dijadikan koleksinya.

Sama halnya, karena berprofesi sebagai karyawan bank atau profesional lain yang posisinya selalu berkutat dengan uang (kasir atau bendahara), akhirnya tertarik mengoleksi berbagai jenis mata uang. Tidak jarang, papar Yasin, karena keseringan ke luar negeri dan tertarik melihat mata uang asing, kemudian mengumpulkannya sebagai koleksi. Karena motivasi iseng inilah, yang mendasari seseorang akhirnya menjadi numismatis.

Karena iseng pula, kolega saya yang tidak sengaja mendapatkan beberapa butir logam koin yasin – saat mencangkul di halaman rumahnya di Tanjung Morawa, kini semakin tertarik untuk menambah koleksinya.

“Tidak untuk dijual. Saya sangat tertarik dengan warna dan gambarnya,” jelasnya.

Ia pun menunjukkan koin yasin itu yang salah satu sisinya bertuliskan yasin dengan huruf Arab gundul dengan susunan tulisan sejajar ke bawah. Pada sisi lain koin tersebut bergambar seseorang (seperti pria berjenggot panjang) diembos, memegang tongkat dengan tangan kiri dan di tangan kanannya menjinjing sebuah benda mirip tempat bekal makanan. Sedangkan di bagian atas kanan dekat kepala, bergambar bulan sabit-bintang dan tulisan yasin serta sederet tulisan lainnya.

Penasaran dengan koin unik dan langka itu, saya pun mencoba berselancar di dunia maya, pada salah satu situs pelelangan koin kuno, ternyata koin yasin itu bernilai sangat fantastis. Tapi tegas pemilik koin itu, untuk tidak menjualnya dan hanya akan dijadikan koleksi.

Sejatinya, motivasi dasar sebagai alasan seseorang menggeluti sebuah hobi itu sangat penting. Dengan adanya motivasi, ketekunan dan keseriusan akan menyertai. Begitu halnya, motivasi sangat diperlukan bagi seorang numismatis. Karena dari motivasi itulah akan lahir tujuan yang kelak ingin dicapai seorang numismatis.

Nilai Sejarah
Benda-benda numismatik yang unik kerap memiliki nilai sejarah sesuai tahun terbitnya. Nilai sejarah inilah yang menjadi pemicu dasar tinggi-rendahnya benda numismatik. Sama kita ketahui, sebelum kemerdekaan RI, uang sebagai alat tukar dalam perdagangan sudah dikenal meluas di nusantara.

Perdagangan internasional pada masa lampau, menyuburkan peredaran mata uang asing di negara kepulauan ini. Misalnya mata uang dari zaman Kerajaan Hindu Buddha (850-1300 Masehi), zaman kerajaan-kerajaan Islam, masa pemerintahan kolonial Belanda, kedatangan pedagang Perancis dan Inggris, hingga era pendudukan Jepang.

Pada sebuah literatur, saat Ratu Buton II (Kerajaan Buton di Sulawesi Tenggara) masih berjaya sekira abad ke-14, pernah dibuat uang berbahan dasar kain tenun dengan sebutan Kampua. Seiring maraknya imperialisme di Indonesia, mata uang koin pun mulai diperkenalkan. Masih ingatkah kita, beberapa tahun lalu warga Ngawi pernah menemukan uang kuno dari zaman Dinasti Ching, bahkan warga Malang juga menemukan sekarung uang yang sama? Zaman bergulir, uang kertas pun mulai diproduksi.

Menjadi numismatis memang perlu modal wawasan. Jika bersungguh-sungguh, tentu wawasan ini bisa didapatkan dari berbagai cara. Misalnya melebur pada sebuah perkumpulan numismatik, mempelajari referensinya dari buku, majalah, bahkan dunia maya. Kini bahkan tersedia katalog uang kertas Indonesia (KUKI) dan katalog uang logam Indonesia.

Dengan wawasan yang memadai, kita bisa membedakan jenis dan seri uang tertentu. Ini akan memudahkan menyiasati uang mana yang akan dikoleksi. Terpenting, memahami harga uang kuno dipasaran saat sekarang. Katagol Uang Kertas Indonesia (KUKI) dan katalog sejenis bisa membantu kita untuk mengambil keputusan.

Kita bisa berdecak kagum, melihat harga selembar uang kertas yang melambung 1.500% dari nominal aslinya bahkan lebih. Tapi ada juga yang kenaikan nilainya biasa-biasa saja, artinya jika jenis uang tersebut dalam jumlah banyak dikonversikan dengan bunga bank dan ditabungkan dalam jangka waktu tertentu, sekarang nilainya tetap sama.

Layaknya mengoleksi barang-barang lainnya, mengoleksi numismatik juga mendatangkan keuntungan secara finansial. Tidak harus uang kuno, uang yang kita pakai sekarang juga harganya bisa melebihi nominal yang ada. Apa alasannya?

Tidak jauh beda dengan nomor perdana kartu sim ponsel, nomor yang berurut atau yang kembar – triple, kwarted, dll – nilai jualnya bisa selangit. Begitu juga dengan uang kertas yang memiliki seri ‘nomor cantik’. Misalnya pecahan uang kerta yang ada saat sekarang, niminal Rp.1.000, pecahan Rp2.000, pecahan Rp10.000, atau pecahan Rp50.000.

Yah, mengoleksi numismatik baik dari jenis uang antik hingga uang bernomor cantik bisa menjadi investasi masa depan. Kecuali akan melunaskan kebahagian karena hobi, investasi numismatik juga bisa mendatangkan hoki. Tertarikkah Anda? (Rhinto Sustono/Analisa)

Sumber: http://harian.analisadaily.com/news?r=85957
Baca selengkapnya...

12 Maret 2016

Daftar Nominasi Banknote of the Year 2015



PEMILIHAN mata uang terbaik tahunan bertajuk Banknote of the Year 2015 yang diadakan oleh International Bank Note Society (IBNS) akan segera digelar. Penyelenggara telah mengumumkan 20 uang kertas baru yang masuk dalam nominasi final. Selanjutnya akan dipilih satu untuk ditetapkan sebagai Banknote of the Year 2015.

Pengajuan nominasi ditutup IBNS sejak 31 Januari 2016 lalu. Setelah melakukan seleksi, dari sekian banyak uang baru yang diterbitkan sepanjang tahun 2015 terpilihlah 20 nominasi yang daftar lengkapnya diumumkan di laman resmi IBNS.

Kini IBNS tengah menggelar penjurian untuk memilih satu uang kertas dengan desain terbaik dan fitur keamanan paling mengesankan untuk ditetapkan sebagai Banknote of Year 2015. Proses penjurian yang dilakukan dengan cara voting oleh seluruh member IBNS direncanakan rampung pada 20 Maret mendatang.

Satu hal yang menarik perhatian, uang kertas Kazakhstan kembali masuk nominasi tahun ini. Ini merupakan kali kelima secara berturut-turut Tenge ada dalam daftar nominee Banknote of the Year. Tepatnya sejak tahun 2011, di mana uang kertas pecahan 10.000 tenge kemudian keluar sebagai Banknote of the Year 2011. Dua tahun setelahnya Kazakhstan terus terpilih sebagai pemenang dengan pecahan 5.000 tenge (2012) dan 1.000 tenge (2013).

Tahun lalu uang 1.000 tenge dengan desain baru juga masuk nominasi Banknote of the Year 2014. Akan tetapi juri pada akhirnya lebih memilih uang kertas keluaran bank sentral Trinidad & Tobago nominal 50 dolar sebagai pemenang mengalahkan 130 uang lain yang diedarkan sepanjang tahun itu.

Hal menarik lainnya, Suriah yang tengah dirundung konflik internal rupanya masih sempat mencetak mata uang baru. Bank Sentral Suriah mengeluarkan uang kertas nomimal 1.000 pound. Sebuah uang dengan desain bertemakan Romawi kuno. Pada bagian depan (observe) terdapat gambar amphitheater peninggalan Kekaisaran Romawi di Bosra. Sedangkan di bagian belakang (reverse) terdapat repro lukisan di dinding reruntuhan bangunan Romawi di As-Suwayda.

Nominee lain yang mencuri perhatian adalah mata uang 100 yuan keluaran Bank Sentral Tiongkok. Uang ini menggambarkan kecanggihan teknologi bangsa Tiongkok yang tengah mengembangkan teknologi ruang angkasa. Gambar stasiun luar angkasa Tiangong-1 dan satelit Dongfanghong I ada bagian depan (observe). Lalu pada bagian belakang (reverse) memperlihatkan kemajuan teknologi penerbangan yang telah dicapai Tiongkok, berupa gambar burung, pesawat biplane Fung Joe Guey, sebuah pesawat jet jumbo, stasiun luar angkasa Tiangong 1 dan satelit Shenzhou 9 dengan Chang’e 1.

Berikut daftar nominasi Banknote of Year 2015 selengkapnya








































Baca selengkapnya...

20 Februari 2016

Promosikan money changer, gadis cantik ini pakai baju dari uang kertas



EMPAT orang gadis cantik tampil mencolok di tengah-tengah keramaian Kota Solo. Bukan karena paras ayu mereka, melainkan pakaian yang mereka kenakan tidak lazim. Ya, empat gadis masing-masing berambut panjang sebahu tersebut memakai baju terusan yang terbuat dari uang kertas.

Dengan atasan lengan panjang, bagian dada pakaian yang dikenakan keempat gadis ini merupakan jejeran berbagai uang kertas mancanegara. Uang-uang kertas tersebut terus bersambung hingga ke lutut membentuk rok. Entah berapa lembar uang kertas yang dihabiskan untuk membuat satu helai pakaian tersebut. Yang jelas, tampak mata uang asing seperti dolar Amerika Serikat bersama dong Vietnam, baht Thailand, yen Jepang, poundsterling Britania Raya, dan beberapa mata uang mancanegara lain.

Tak cuma mata uang asing, pada salah satu pakaian juga terdapat uang pecahan Rp50.000 bergambar I Gusti Ngurah Rai. Ini uang rupiah yang masih berlaku. Menarik dicari tahu apakah uang tersebut asli atau palsu.

Ngomong-ngomong, apa yang dilakukan keempat gadis cantik tersebut dengan pakaian dari uang kertas seperti itu? Usut punya usut, mereka tengah mempromosikan sebuah money changer. Berdiri di tengah keramaian, masing-masing gadis memegang sejumlah brosur yang dibagikan pada orang-orang yang berada di sekitar mereka.








Ini sebenarnya foto lama, kejadiannya sudah berlalu dua tahun lalu, tepatnya 28 April 2013. Tapi saya baru saja menemukannya di Google Images saat mencari beberapa gambar terkait uang lama.

Foto-foto ini dikirimkan oleh fotografer Setiawan Prayudhi asal Karanganyar, Jawa Tengah, untuk situs jurnalisme foto Demotix.com. Sayang, tak ada keterangan di mana gadis-gadis ini berada saat itu.
Baca selengkapnya...

Paket Uang Mahar Rp16 Murah Meriah


MENIKAH tahun 2016 dan butuh uang lama pecahan kecil Rp16? Kami punya stoknya! Mau yang kertas atau koin, silakan sebut saja nominal pecahan yang Anda inginkan. Uanglama.com merupakan pelopor penyedia paket-paket uang mahar sesuai pecahan tahun dengan harga murah dan kualitas barang tidak mengecewakan.

Buktikan sendiri! :)

Berikut detil masing-masing Paket Rp16 yang kami sediakan di blog uanglama.com ini:

Untuk prosedur pembelian silakan dibaca di halaman yang ini.

Paket 16 Rupiah A

Paket 16 Rupiah A


Terdiri atas:
- 1 keping Rp10 tahun 1979 (klik di sini untuk lihat detil uangnya)
- 1 keping Rp5 tahun 1979 (klik di sini untuk lihat detil uangnya)
- 1 keping Rp1 tahun 1971 (klik di sini untuk lihat detil uangnya)

Rp70.000,-

Rp55.000,-

Hemat Rp15.000!

stok: H A B I S



Paket 16 Rupiah B

Paket 16 Rupiah B


Terdiri atas:
- 3 keping Rp5 tahun 1979 (klik di sini untuk lihat detil uangnya)
- 1 keping Rp1 tahun 1971 (klik di sini untuk lihat detil uangnya)

Rp80.000,-

Rp65.000,-

Hemat Rp15.000!

stok: Ready Stock



Paket 16 Rupiah C

Paket 16 Rupiah C


Terdiri atas:
- 1 keping Rp10 tahun 1971 (klik di sini untuk lihat detil uangnya)
- 1 keping Rp5 tahun 1979 (klik di sini untuk lihat detil uangnya)
- 1 keping Rp1 tahun 1971 (klik di sini untuk lihat detil uangnya)

Rp55.000,-

Rp45.000,-

Hemat Rp10.000!

stok: Ready Stock



Paket 16 Rupiah D

Paket 16 Rupiah D


Terdiri atas:
- 1 lembar Rp10 tahun 1963 (klik di sini untuk lihat detil uangnya)
- 1 lembar Rp5 tahun 1959 (klik di sini untuk lihat detil uangnya)
- 1 lembar Rp1 tahun 1961/1960 (klik di sini untuk lihat detil uangnya)

Rp80.000,-

Rp65.000,-

Hemat Rp15.000!

stok: Ready Stock



Paket 16 Rupiah E

Paket 16 Rupiah E


Terdiri atas:
- 3 lembar Rp5 tahun 1959 (klik di sini untuk lihat detil uangnya)
- 1 lembar Rp1 tahun 1961/1960 (klik di sini untuk lihat detil uangnya)

Rp95.000,-

Rp75.000,-

Hemat Rp15.000,-

stok: Ready Stock



Paket 16 Rupiah F

Paket 16 Rupiah F


Terdiri atas:
- 1 lembar Rp10 tahun 1963 (klik di sini untuk lihat detil uangnya)
- 2 lembar Rp2,5 tahun 1961 (klik di sini untuk lihat detil uangnya)
- 1 lembar Rp1 tahun 1961/1960 (klik di sini untuk lihat detil uangnya)

Rp105.000,-

Rp90.000,-

Hemat Rp15.000!

stok: Ready Stock



Selamat berbelanja!
Baca selengkapnya...

14 September 2015

Seni berburu uang lama: Mengatur napas, menyusun strategi


Wisnu Murti sedang menata dagangannya di Pasar Klitikhan Pakuncen, Wirobrajan, Yogyakarta. FOTO: Rachmat Sujianto/Bisnis.com

MENGOLEKSI uang lama memang sangat mengasyikkan. Mengutip pendapat Wisnu Murti, kolektor senior sekaligus penjual uang lama di Pasar Klithikan Wirobrajan, Yogyakarta, letak keasyikannya adalah saat kita hendak melengkapi satu seri tapi ternyata ada satu pecahan yang sangat susah didapatkan. Kesabaran dalam berburu satu pecahan itulah yang membuat perburuan uang lama menjadi asyik dan menantang.

Bayangkan kalau kita sudah punya, katakanlah, seluruh seri Sudirman kecuali pecahan Rp10.000. Segala daya dan upaya pasti kita kerahkan untuk mencari satu denominasi dalam seri tersebut agar komplit. Yang bikin sulit, bagia sebagian besar kolektor pemula uang tersebut bukanlah uang murah. Maka harus pintar-pintar mencari uang dengan kondisi bagus tetapi harganya tidak terlalu menguras kantong.

Keasyikan lain mengoleksi uang lama bagi kolektor pemula adalah saat jumlah koleksi semakin lama semakin banyak jumlahnya, serta semakin tinggi nilainya. Dari hanya beberapa lembar, lama-lama jumlah koleksi berlipat ganda hingga beralbum-album. Dari hanya mengoleksi ‘uang sayur’ seharga ribuan rupiah, lalu meningkat dengan mengoleksi uang berkelas seharga ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Peningkatan jumlah maupun nilai uang lama yang dikoleksi tersebut tentu membutuhkan proses. Bila diibaratkan lomba lari, mengoleksi uang lama adalah maraton, lari jarak jauh yang membutuhkan strategi tepat agar tak ‘kehabisan napas’ di tengah-tengah perlombaan. Kolektor paling senior sekali pun dituntut sabar dan harus pandai-pandai mengerem ambisinya kalau tak mau tersungkur di tengah jalan.

Sayangnya, kebanyakan kolektor pemula sering terlalu terburu nafsu dalam membeli koleksi baru. Alih-alih mengatur napas, mereka malah mengencangkan larinya karena tak sabar ingin cepat-cepat sampai ke tujuan. Setiap ditawari uang yang belum ia punya, pasti dibeli. Terkadang tak peduli dengan harga, yang penting kondisi oke. Ini ibarat sprint.

Menggunakan strategi sprint di lomba maraton jelas keputusan konyol. Akibatnya, tak heran bila banyak kolektor pemula yang hanya menekuni dunia numismatik seumur jagung.

Variasi Harga

Ada banyak alasan kenapa seorang kolektor musti meningkatkan kesabarannya dalam berburu uang lama. Salah satunya, harga uang lama tidak mempunyai standar baku. Oke, memang di katalog-katalog uang macam Katalog Uang Kertas Indonesia (KUKI) maupun Standard Catalog of World Paper Money terdapat panduan harga. Namun, ingat, harga tersebut bukan patokan resmi yang harus dipatuhi seluruh numismatis. Pasar uang lama yang sedemikian luas dan bebas memungkinkan terjadinya variasi harga sesuai kesepakatan penjual dan pembeli.

Satu hal lagi yang membuat katalog uang seolah tak berlaku adalah pergerakan barang di pasar dan permintaan. Jika permintaan banyak, uang yang sebenarnya berkategori sayur pun bisa berharga lebih bagus ketimbang yang seharusnya. Pun demikian jika satu uang tertentu mulai langka di pasaran, bisa dipastikan harganya menjadi melambung tinggi.

Sebagai contoh uang pecahan Rp10 tahun 1959 yang biasa diburu untuk keperluan mas kawin atau mahar nikah. Di KUKI 2005 maupun 2010, harga uang lama ini dalam kondisi UNC tak sampai Rp10.000. Tapi, coba lihat harganya di pasaran. Sebagian besar penjual mengecernya dengan harga minimal Rp20.000/lembar. Di Pemalang, saya malah pernah menemukan sebuah toko menjualnya seharga Rp50.000/lembar!


Ini uang sayur. Variasi harga lebih seru bisa ditemukan saat seorang kolektor mencari uang yang sedikit lebih berkelas. Ambil contoh uang Seri Wayang pecahan 10 gulden. Di pasaran harganya sangat variatif, sekali pun kondisi (grade) uang yang ditawarkan sama saja, yakni berkisar antara Very Good (VG) hingga Extremelty Fine (XF). Kalau tak hati-hati dan teliti, kolektor bisa saja membeli uang lama berkondisi lebih jelek tapi dengan harga lebih mahal. Ini biasa terjadi pada kolektor pemula.

Hal sama berlaku pada kolektor uang asing. Harga di Standard Catalog of World Paper Money atau Standard Catalog of World Coin bukanlah harga resmi, sehingga banderol yang dipatok pedagang berbeda-beda di pasaran. Jika Anda biasa berburu uang asing di situs lelang eBay, perbedaan harga ini dapat terlihat jelas.

Nah, karena terus-terusan membeli uang lama dengan harga tidak wajar, nilai koleksi jauh lebih rendah dari harga pasar. Saat hendak menjual, si kolektor bisa rugi meskipun harga uang lama cenderung naik dari waktu ke waktu.

Kondisi Finansial

Alasan lain kenapa seorang kolektor musti ekstra sabar dalam berburu uang lama adalah kondisi finansial. Mengoleksi uang lama membutuhkan dana besar, apalagi kalau kolektor tak membatasi apa saja yang hendak dikoleksi. Terus-menerus membeli uang lama tanpa memperhatikan keadaan ekonomi bisa membuat kolektor kehabisan uang dan akhirnya jatuh bangkrut.

Meski demikian, seseorang tak harus berkantong tebal untuk menjadi kolektor uang lama. Tak harus menjadi dokter seperti dr. Arifin di Jakarta, karena siapa pun dari latar belakang apa pun bisa menjadi kolektor kakap. Syaratnya adalah kesabaran tinggi dan didukung dengan manajemen finansial yang baik. Kalau main hantam kromo tanpa mempedulikan kas di kantong, terlebih tak diimbangi dengan menjual sebagian koleksi, harta seberapa pun tak akan cukup untuk memuaskan hasrat mengoleksi uang.

Berjalan beberapa bulan saja, koleksi milik kolektor seperti ini memang langsung banyak. Bahkan bisa mengungguli kolektor-kolektor yang sudah lebih lama 'bermain' uang kuno. Tapi seiring dengan itu keuangan dibuat limbung karena terus-menerus mengeluarkan uang, apalagi kalau sampai mengganggu ekonomi keluarga demi memuaskan ambisi akan koleksi tertentu. Ujung-ujungnya, uang yang sudah dikoleksi pun berganti dilepas satu demi satu.

Untuk itulah seorang kolektor dituntut pandai-pandai mengatur napas agar tak pingsan, atau bahkan ‘mati’, saat berburu uang lama.

Bagaimana pendapat Anda? Yuk, share di kolom komentar...
Baca selengkapnya...