Eko Agus Purnomo menunjukkan koleksi uang kuno miliknya, yang juga dipajang di toko uang kunonya di Jalan Museum, Sriwedari, Solo. FOTO: JIBI/SOLOPOS/Dwi Prasetya

BAGI sebagian orang, koleksi uang lama hanya sekedar hobi. Tapi tidak untuk Eko Agus Purnomo. Berawal dari kecintaanya pada numismatik, Eko mengawali bisnis jual-beli uang lama. Berawal dari banyak berburu uang lama ke sekitaran Solo, kota tempat tinggalnya, sampai luar kota. Kini, ia punya tiga toko yang tersebar di Sragen, Solo dan Salatiga.

Hobi mengoleksi uang lama sudah Eko geluti sejak SMA. Untuk menemukan uang lama incarannya, ia melangkahkan kaki sampai ke Bandung. Di sana ia menemukan banyak uang lama yang kurang diberdayakan.

"Cuma kios kecil pinggir jalan yang jual, itu pun kurang fokus," kata Eko, seperti dilansir Solopos online.

Dari itulah, ia melihat ada peluang yang belum digarap orang lain. Hatinya pun tergerak untuk memulai bisnis jual-beli uang lama sejak sekitar 1996. Mulai dari lapak kecil-kecilan, tokonya semakin membesar sampai akhirnya bisa membuka dua cabang di Sragen dan Salatiga.

Toko-toko Eko menyediakan uang lama dari 200 negara lebih. Tak cuma yang sudah tidak beredar, ia juga menyediakan uang-uang yang masih berlaku. Selain itu, ada juga uang lama yang dijadikan mahar pernikahan. Keunikan uang lama sebagai mahar terletak pada nominalnya yang kecil, sehingga mampu menyesuaikan tanggal pernikahan. Dengan demikian mahar terkesan elok, unik, serta lebih bersifat pribadi nan penuh kenangan bagi pengantin.

Eko menuturkan, untuk berbisnis uang lama dibutuhkan kesabaran tinggi. Pasalnya, semakin tua usia uang lama tersebut, maka harganya bisa melambung setinggi langit dengan kondisi yang masih bagus. Ia mencontohkan uang lama nominal Rp600 tahun 1948 bergambar Soekarno. Pada era 1990-an harganya hanya kisaran Rp 9 juta, itu pun jarang yang berani beli. Tapi sekarang, dalam katalog harga uang tersebut sudah mencapai Rp 40 juta lebih.

"Punya uang lama dijual sekarang memang sudah untung, tapi kalau bersabar, nanti akan lebih tinggi lagi," imbuhnya.

Untuk itu, ia menglasifikasi uang yang disimpan untuk koleksi dan uang yang siap diperjual-belikan kapan pun. Bedanya pada investasi, uang yang disimpan memiliki prospek peningkatan harga yang tajam, sedangkan uang lama lain kenaikan harganya cenderung sedikit.

Sejauh ini komunitas numismatika atau pengumpul uang lama masih jarang di Indonesia. Asosiasi numismatika baru ada di kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya. Padahal kolektor dan pedagang uang lama sudah cukup banyak menyebar di kota-kota lainnya, seperti Kota Solo dan Yogyakarta. Bahkan di Kota Tegal atau Cirebon juga banyak kolektor uang lama.

Karenanya, Eko mengungkapkan dirinya tengah berusaha membentuk satu komunitas numismatika untuk kolektor di Solo dan sekitarnya. Peluang komunitas ini cukup besar, karena pihaknya sudah memiliki banyak kawan hobi serupa. Kuncinya tinggal bagaimana para kolektor itu berkumpul dan membentuk komunitas, maka akan menjadi solid dan memberi manfaat besar bagi anggota-anggotanya. Di antaranya pengetahuan mengenai perkembangan uang lama, harga jual-beli, tren keuangan dan sebagainya. Selain itu, komunitas juga dapat bekerja sama menggelar pameran-pameran uang lama.

"Selama ini saya ikut pameran di mana-mana, banyak sekali keuntungannya, wawasan bertambah, dan bisa saling tukar koleksi atau perdagangan, tidak ada salahnya ada komunitas ini," kata Eko lagi.