Langsung ke konten utama

Uang Mahar: Rp10 Tahun 1958





Gambar depan (obverse):
Seorang seniman Bali bertelanjang dada sedang memahat sebuah patung di sebelah kiri uang, tulisan "BANK INDONESIA" diikuti di bawahnya tulisan "SEPULUH RUPIAH" berukuran besar di bagian tengah, lingkaran putih dengan watermark di dalam motif batik Bali di sisi kanan. Sejumlah ornamen hias memenuhi bagian uang lainnya.

Angka "10" yang merupakan nominal uang tertera di sudut kiri-atas dan kanan-bawah, sedangkan angka "1958" yang merupakan tahun penerbitan uang terletak di tengah bawah, tepat di bagian atas antara tanda tangan Gubernur Bank Indonesia saat itu, Loekman Hakim, dan Direktur TRB Sabaroedin.

Gambar belakang (reverse):
Gambaran sebuah perkampungan di Bali, lengkap dengan sebuah kuil persembahyangan yang dikelilingi oleh rumah-rumah tradisional, pada bagian tengah-tengah uang. Di bawahnya terdapat kotak berisikan tulisan peringatan larangan meniru atau memalsu uang kertas beserta ancaman penjara bagi pelakunya.

Di sebelah kiri terdapat lingkaran putih dikelilingi ornamen hias, di dalam bidang putih tersebut terdapat watermark. Lalu di sebelah kanan terlihat gambar Barong khas Bali. Angka "10" sebagai nominal uang tertera di sudut kiri-atas dan kanan-bawah uang, dilengkapi nomor seri uang pada bagian kanan-kiri atas.

Tanggal terbit:
11 December 1961, yang tertera di uang tahun 1958.

Nomor seri:
Variasi tiga huruf dan enam angka, terletak di sebelah kiri-kanan atas pada bagian belakang uang.

Tandatangan:
Loekman Hakim (Gubernur Bank Indonesia 1958-1959)
TRB Sabaroedin (Direktur)

Ukuran:
133 x 68 mm.


Catatan: Mohon gunakan gambar di atas sebagai referensi/gambar contoh saja. Uang yang Anda terima bisa jadi memiliki perbedaan nomor seri dari yang tertera pada gambar di atas.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Misteri Rp100 Perahu Layar

D I kalangan numismatis Indonesia, kalau kita menyebut " uang perahu layar " atau " uang kapal layar ", maka itu yang dimaksud adalah Rp100 tahun 1992. Uang tersebut bagian depannya memang bergambar sebuah kapal, tepatnya kapal phinisi asal Sulawesi yang sangat legendaris itu. Dalam bahasa Indonesia sesuai EYD, nama kapal tersebut menjadi Perahu Phinisi . Pada uang Rp100 tahun 1992, tertulis "PERAHU PINISI" (tanpa "H"). Foto: koleksi pribadi Rp100 tahun 1992 asli, bergambar dan bertuliskan 'Perahu Pinisi'. Coba perhatikan gambar berikut. Inilah uang Rp100 tahun 1992 yang asli. Di bawah gambar kapal terdapat tulisan 'Perahu Pinisi'. Uang ini mulai diedarkan sebagai uang kertas yang sah sebagai alat tukar (legal tender) sejak 28 Desember 1992. Peredarannya berbarengan dengan Rp500 tahun 1992 bergambar orangutan. Uang ini beredar cukup lama, yakni sampai tahun 2000. Karena itu, pada uang ini terdapat berbagai cetakan tahun (199...

Daftar Lengkap Uang Kertas Rp100 (1945-1992)

S EBAGAI referensi bagi para peminat numismatik, khususnya para kolektor pemula, berikut saya sajikan daftar lengkap uang pecahan Rp100 yang pernah dikeluarkan pemerintah Republik Indonesia dan kemudian Bank Indonesia. Namun, maaf, di sini tidak diberikan kisaran harga sebab harga masing-masing uang sangat fluktuatif. Lagipula harga biasanya juga tergantung kondisi, jadi saya rasa lebih baik tidak usah dicantumkan harga. Khusus untuk Rp100 tahun 1977 , Rp100 tahun 1984 , dan Rp100 tahun 1992 , silakan lihat harganya di halaman muka . Untuk pemesanan silakan SMS atau WhatsApp ke 0878 7450 5758 . Btw, berikut daftar lengkap uang kertas pecahan Rp100 sejak tahun 1945 hingga 1992 . Rp100 tahun 1945 Rp100 tahun 1958 Rp100 tahun 1964 Rp100 tahun 1977 Rp100 tahun 1952 Rp100 tahun 1959 Rp100 tahun 1964 Biru Rp100 tahun 1984 Rp100 tahun 1957 Rp100 tahun 1960 Rp100 tahun 1968 Rp100 tahun 1992 Daftar ini saya susun sebagai pelengkap artikel seputar Rp100 Perahu Layar dan M...

Tertarik jualan uang lama? Begini asyiknya jadi kolekdol

USAHA jual-beli uang lama sudah saya lakoni sejak pertengahan 2009. Tepatnya setelah saya melakukan liputan soal hobi koleksi uang jaman dulu alias numismatik ke sejumlah kolektor Jogja. Dari liputan itulah, lha kok , saya ikut-ikutan kecemplung menjadi kolektor kecil-kecilan, sekaligus juga pedagang kecil-kecilan. Waktu itu saya buta sama sekali soal uang lama. Tapi saya langsung menemukan chemistry saat mendengarkan cerita Mas Panji Kumala di rumahnya di kawasan Sagan, kisah Pak Sugiarto berburu koin hingga menyelami lautan di Indonesia Timur, serta Pak Whisnu Murti di lapaknya di Pasar Klithikan, Wirobrajan. Ketertarikan pada uang lama semakin bertambah setelah saya menemukan forum numismatis di Kaskus serta membaca-baca sejumlah referensi online. Satu hal yang membuat saya tertarik, mengoleksi uang lama ternyata bisa jadi instrumen investasi alternatif . Sama halnya menyimpan emas. Sarana Investasi Menarik Begini penjelasan Mas Panji saat saya wawancarai untuk keperluan li...