Langsung ke konten utama

Kolektor Perfeksionis

SECARA umum seorang numismatis mengoleksi uang berdasarkan denominasi atau serinya. Maksudnya, yang jadi perhatian utama adalah nilai pecahan yang tertera di uang tersebut, lalu termasuk dalam seri apa. Kalau sudah dapat satu denominasi di seri tertentu, katakanlah uang wayang 10 Gulden, ya sudah. Selanjutnya kumpulkan seri atau denominasi lainnya dalam Seri Wayang.

Menariknya, ada segolongan kolektor yang sangat teliti dalam mengumpulkan uang. Tak hanya perbedaan denominasi dan seri, mereka juga memperhitungkan hal-hal detil yang bagi kebanyakan kolektor bukan perbedaan. Misalnya perbedaan tanda tangan atau warna pada uang dengan denominasi dan seri yang sama.

Untuk menunjukkan betapa detil perhatiannya terhadap uang-uang yang ia koleksi, saya sebut saja kolektor-kolektor seperti ini sebagai kolektor perfeksionis. Bayangkan, bahkan perbedaan tanda tangan pun diperhatikannya! Tak heran jika kolektor yang masuk kategori ini umumnya memiliki koleksi super lengkap.

Beda Tanda Tangan
Sebagai contoh uang pecahan Rp2.000 bergambar Pangeran Antasari. Uang ini pertama kali dirilis tahun 2009, dan ketika dibuat jabatan Gubernur Bank Indonesia diisi oleh Deputi Gubernur Senior (DGS) Miranda Gultom. Gubernurnya sendiri adalah Boediono. Namun karena Boediono mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden bersama Susilo Bambang Yudhoyono di Pemilihan Presiden, posisi Gubernur BI lowong dan untuk sementara diisi oleh Miranda Gultom.

Karena yang menandatangani uang resmi suatu negara adalah gubernur atau pejabat gubernur bank sentral dan wakilnya, uang pecahan Rp2.000 tahun emisi 2009 ditandatangani oleh Miranda Gultom selaku DGS BI, dan tulisan di bawah tandatangannya adalah "Deputi Gubernur Senior". Pada terbitan tahun 2010 posisinya berubah. Jabatan Gubernur BI diisi oleh Darmin Nasution, sedangkan Miranda Gultom menjadi Deputi Gubernur. Dengan demikian posisi tandatangan Miranda pindah dari sebelumnya di sebelah kiri ke sebelah kanan.

Kemudian pada terbitan tahun 2011, lagi-lagi tandatangannya berubah. Tandatangan Darmin Nasution selaku Gubernur BI memang masih ada, tapi tanda tangan Deputi Gubernur berganti, bukan lagi Miranda. Kalau diperhatikan tanda tangan Deputi Gubernur pada emisi 2011 sama dengan keluaran pertama di tahun 2009 saat Miranda menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior alias plt. Gubernur BI.


Bagi kolektor awam, hal ini tidak berarti apa-apa karena nominal dan tampilan uangnya sama saja. Tapi bagi kolektor perfeksionis, perbedaan tanda tangan seperti ini merupakan keunikan tersendiri yang membuat uang tersebut wajib dikoleksi. Maka jangan heran kalau ada kolektor yang menyimpan uang Rp2.000 tahun 2009 sampai dua macam atau bahkan lebih.

Begitu juga saat BI merevisi tampilan uang pecahan Rp10.000, Rp20.000, Rp50.000 dan Rp100.000. Perubahan minor yang dilakukan saat itu adalah dengan menambah gambar pola di bidang kosong di mana watermark berada. Jika sebelumnya di bidang tersebut kosong dan hanya ada watermark, kini terdapat gambar pola bulat-bulat dengan warna sesuai warna dasar uang.

Bagi kolektor awam, perubahan kecil seperti ini tak akan membuatnya mengoleksi uang keluaran baru melengkapi emisi sebelumnya. Tapi bagi kolektor spesialis, uang terbaru dengan revisi minor ini wajib hukumnya untuk disimpan dalam album koleksinya.

Lain Warna
Selain perbedaan tanda tangan, perbedaan warna pada uang yang sama juga menjadi perhatian kolektor perfeksionis. Ambil contoh pecahan Rp10.000 tahun 2005. Uang bergambar Sultan Mahmud Badaruddin II dari Kesultanan Palembang ini beredar dalam dua warna. Cetakan pertama yang dirilis 18 Oktober 2005 berwarna dominan ungu. Namun karena warnanya dianggap hampir sama dengan pecahan Rp100.000, BI kemudian mengeluarkan cetakan baru berwarna kebiruan pada 20 Juli 2010.

Tampilan dan tema uang Rp10.000 tahun 2005 dan 2010 sama persis, yang berubah hanya warnanya saja. Sebagian besar kolektor, utamanya yang masih tahap pemula, sering mengabaikan hal ini. Bagi para kolektor yang saya sebut sebagai kolektor spesialis, perbedaan warna seperti ini membuat uang Rp10.000 emisi 2010 wajib dikoleksi sekalipun sudah punya yang emisi 2005.

Sebelum uang Sultan Mahmud Badaruddin II, BI sudah beberapa kali mengeluarkan uang dengan denominasi dan tampilan gambar sama persis tapi berbeda warna. Mulai dari seri pekerja, di mana pecahan Rp5.000 tahun 1958 ada yang berwarna coklat kehijauan dan cetakan selanjutnya berwarna ungu.


Masih dari seri pekerja, pecahan Rp100 tahun 1964 juga beredar dalam dua warna. Satu berwarna ungu, sedangkan satunya lagi berwarna biru. Padahal gambar dan desainnya sama saja, yakni gambar penyadap karet (obverse) dan rumah adat Kalimantan (reverse).

Begitulah, namanya saja perfeksionis. Bagi kolektor yang begitu mendetil seperti ini perbedaan sekecil apapun merupakan sebuah keunikan. Ada perbedaan sedikit saja dari jenis uang yang sama sudah dinilai sebagai perbedaan, dan karenanya harus masuk ke album koleksi.

Bagaimana dengan Anda? [eko/uanglama.com]

Komentar

  1. uang langka koin 1899 satu abad 111th 2 bahasa,2ukiran khas,,D=7cm,wanita membawa tombak&perisai flag inggris,minat hub...08998211528
    e-mail :pandu_hahah@yahoo.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Koinnya sudah laku belum nih? Kalo laku dan pembelinya tahu dari sini boleh donk bagi komisinya? :D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Misteri Rp100 Perahu Layar

Rp100 Tahun 1982 Gambar Badak

Rp500 Tahun 1992, Uang Orangutan

Kontak Kami