Langsung ke konten utama

Kolektor Spesialis

Dokter spesialis, itu sudah biasa. Bagaimana dengan kolektor atau numismatis spesialis? Jangan salah. Dalam dunia numismatik juga ada semacam spesialisasi di kalangan para kolektor. Kita sebut saja kolektor semacam ini sebagai kolektor spesialis.

Ya, seorang kolektor bisa dipastikan memiliki kecenderungan untuk lebih fokus mengoleksi uang lama berdasarkan seri atau jaman tertentu. Dengan alasan masing-masing, sang kolektor merasa lebih bergairah untuk memburu uang-uang lama yang paling disenanginya.

Lumrah Terjadi
Spesialisasi seperti ini bisa dibilang hal lumrah. Karena latar belakang dan selera masing-masing kolektor berbeda, tak heran jika kecenderungannya terhadap uang lama yang dikoleksi pun berbeda-beda pula.

Ambil contoh Panji Kumala. Kolektor muda asal Yogyakarta ini mengaku paling suka Seri Soedirman. Karena itu koleksi uang lamanya didominasi oleh uang kertas bergambar jenderal besar tersebut. Seri itu pula yang paling komplit diantara koleksi-koleksinya yang lain.

Kesukaan Panji pada Seri Soedirman setidaknya didasari pada tiga hal. Pertama, ia sangat mengagumi sosok Jenderal Soedirman. Menurut pendapatnya jenderal yang juga seorang anak pesantren ini patut dijadikan teladan atas kerendahan hati dan sikap ksatrianya. Kita tentu masih ingat bagaimana jenderal kelahiran Purbalingga ini tetap gigih memimpin gerilya sekalipun dalam kondisi sakit keras.

Kedua, Seri Soedirman terbilang paling lengkap pecahannya. Dari yang paling kecil Rp1, hingga pecahan terbesar Rp1.000. Total ada sembilan pecahan dalam seri tersebut, yakni pecahan Rp1, Rp2,5, Rp5, Rp10, Rp25, Rp50, Rp100, Rp500, dan Rp1.000.

Ketiga, meskipun terbilang lengkap dan banyak dicari, namun harga uang lama Seri Soedirman relatif lebih terjangkau dibanding seri-seri lainnya. Harga satu set lengkap Seri Soedirman dengan kondisi campuran antara XF hingga UNC tak sampai Rp 2 juta. Bandingkan dengan Seri Kebudayaan, misalnya.

Potensi Pasar
Lain lagi dengan Soegiarto, kolektor senior lainnya dari Yogyakarta. Meski awalnya rajin mengumpulkan uang kertas, namun selama beberapa tahun di era 1980-an ia hanya fokus berburu koin kuno. Saking getolnya berburu koin kuno, boleh dibilang ia merupakan kolektor koin kuno pertama di Indonesia.

Koleksi Giarto, panggilan akrabnya, ketika itu cukup lengkap. Meliputi koin-koin Belanda, koin VOC, sampai koin jaman kerajaan Majapahit. Pengetahuannya seputar koin kuno juga mumpuni. Tak heran jika banyak kolektor lain menjulukinya Raja Koin.

Ketertarikan Giarto pada koin kuno sebenarnya lebih didorong pada fakta bahwa koin kuno merupakan komoditi paling laris masa itu. Di saat harga logam dunia sedang tinggi-tingginya, koin kuno jadi barang dagangan yang sangat menguntungkan. Apalagi ia punya koneksi yang dapat langsung menghubungkannya ke kolektor-kolektor Eropa. Koneksi tersebut seorang kolektor asal Belanda yang menjadi dosennya di Sekolah Instrumentasi Gelas, Elektronika, dan Logam (SIGEL), Jakarta.

Bermodal koneksi tersebut, konsumen Giarto waktu itu malah banyak berasal dari luar negeri. Sayang, sekitar tahun 1983-an harga logam dunia jatuh. Giarto pun kehilangan banyak pesanan sampai akhirnya berhenti memburu koin kuno.

Koleksi Lebih Lengkap
Selain dua kolektor tersebut, kolektor-kolektor lain juga punya kecenderungan khusus pada uang lama seri tertentu. Misalnya lebih tertarik pada Seri Hewan, namun ada juga yang lebih tertarik pada Seri Wayang, Seri Soekarno, dll.

Biasanya kolektor semacam ini memiliki koleksi sangat lengkap. Mereka tak hanya mengoleksi berdasarkan pecahan atau nominal, tapi juga perbedaan tahun emisi, tandatangan gubernur bank sentral, bahkan perbedaan warna. Jadi, jangan heran jika kolektor spesialis seperti ini bisa menyimpan uang yang sama hingga beberapa lembar.

Sebagai contoh uang pecahan Rp2.000 bergambar Pangeran Antasari. Uang ini pertama kali dirilis tahun 2009, dan ketika dibuat jabatan Gubernur Bank Indonesia diisi oleh Deputi Gubernur Senior Miranda Gultom. Gubernurnya sendiri adalah Boediono. Namun karena Boediono mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden bersama Susilo Bambang Yudhoyono di Pemilihan Presiden, posisi Gubernur BI lowong dan untuk sementara diisi oleh Miranda.

Karena yang menandatangani uang resmi negara adalah gubernur atau pejabat Gubernur BI, secara otomatis uang pecahan Rp2.000 tahun emisi 2009 ditandatangani oleh Miranda Gultom. Ketika Pilpres selesai, SBY selaku presiden terpilih mengangkat Darmin Nasution sebagai Gubernur BI. Nah, ketika BI meluncurkan Rp2.000 emisi baru pada tahun 2010 dan 2011, yang menandatangani tentu saja Darmin Nasution.

Jadi, uang Rp2.000 tahun 2009 emisi 2009 ditandatangani Miranda Gultom, sedangkan emisi 2010 dan 2011 ditandatangani Darmin Nasution. Bagi kolektor awam, hal ini tidak berarti apa-apa karena nominal dan tampilan uangnya sama saja. Tapi bagi kolektor spesialis, perbedaan tandatangan seperti ini merupakan keunikan dan wajib dikoleksi. Maka jangan heran kalau ada kolektor yang menyimpan uang Rp2.000 tahun 2009 sampai dua lembar atau bahkan lebih. [eko/uanglama.com]

Komentar

  1. saya mempunyai beberapa uang kertas lama yang berkisar antara tahun 1970 s/d 1980. uang-uang kertas lama saya rata-rata berasal dari negara kuwait,portugal,yugoslavia,belanda,belgia. kemanakah saya bisa menjual uang tersebut dan berapa harga penjualan uang kertasa lama yang saya punya?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Misteri Rp100 Perahu Layar

Daftar Lengkap Uang Kertas Rp100 (1945-1992)

Rp500 Tahun 1992, Uang Orangutan

Kontak Kami